Artikel ini mengulas tentang klasifikasi 8 dimensi fitrah dalam diri setiap individu dan peran peradaban yang akan dicapai, termasuk fitrah keimanan, fitrah bakat, sosial, keluarga, jasmani, estetika dan bahasa hingga fitrah perkembangan. Pelajari bagaimana pengembangan fitrah yang tepat dapat membantu mencapai kesiapan dan kebahagiaan dalam kehidupan, serta peran orang tua dalam mengarahkan anak-anak untuk menumbuhkan fitrah mereka. Artikel ini memberikan pandangan yang bermanfaat tentang bagaimana kita dapat menumbuhkan fitrah kita untuk mencapai kesiapan dan kebahagiaan dalam hidup. – adminweb

Oleh Harry Santosa Allahuyarham

8 Dimensi Fitrah

1. Fitrah Keimanan

Setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensifitrah keimanan, bahkan setiap kita ketika di alam rahim, pernah bersaksi bahwa Allah sebagai Robb (kholigon, rozigon, malikan) — QS 7:172. Tidak ada anak yang tidak cinta Tuhan dan Kebenaran kecuali disimpangkan dan dikubur oleh pendidikan yang salah dan gegabah. Ini meliputi moral, spiritual, keagamaan dstnya. Golden Age fitrah ini ada pada usia 0-6 tahun. Fitrah ini berinteraksi dengan Life System (FitrahMunazalah/Kitabullah) sehingga dicapai peran menyeru kepada Tauhi dan menyempurnakan semua akhlak. Buahnya adalah akhlak/adab terhadap Allah dan melingkupi semua akhlak lainnya.

Fitrah Keimanan akan tumbuh menjadi Kesiapan & Kebahagiaan
dalam dimensi Spiritual Life Menuju peran peradaban Change Maker

A Man of Mission & Vision

Sepanjang sejarah Peran seorang Ayah adalah pemimpin yang membangun Aqidah (faith & spirituality) atau Keimanan. Wujud keimanannya akan nampak pada kejelasan Misi Hidup dan Visi Hidupnya juga nilai nilai (core value) yang diyakininya baik disadari atau tidak. Ketika menikah Misi Hidupnya ini menjadi MIsi Keluarga, ayahlah yang menemukan Misi Keluarga, menunjukkan cara menempuhnya dan menarasikannya dengan hebat. Family Mission ini kelak menjadi family business dan family legacy sebagai perjuangan utama yang dilakukan bersama anak dan pasangan serta bisa diwariskan

A Person of Love and Sincerity

Ibu adalah sosok yang penuh cinta dan ketulusan. Allah SWT ciptakan wanita dengan karakteristik ini agar siap mendukung dan menjadi makmum (follower) misi hidup sang suami. Ia mendorong suaminya agar menjadi imam yang baik, membantunya dengan setia untuk menemukan misi hidupnya dan mendampinginya dengan segenap jiwa raga sepanjang hidupnya. Sosok Khadijah alKubro RA adalah contoh wanita yang mendukung penuh Misi suaminya dengan sepenuh cinta dan ketulusan.

2. Fitrah Bakat

Setiap anak adalah unik, mereka masing masing memiliki sifat atau potensi unik produktif yang merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban, Golden Age pengembangannya di usia 10-14 tahun. Fitrah ini berinteraksi dengan fitrah kehidupan untuk peran Bashiro wa Nadziro, Buahnya adalah akhlak pada kehidupan manusia.

Fitrah Bakat akan tumbuh menjadi Kesiapan & Kebahagiaan
dalam dimensi Worklife/Business Life Menjuju Peran Peradaban Solution Maker

Professionalisme & Enterpreneurship Builder

Peran ayah juga adalah pembangun profesionalisme baik dalam karir maupun bisnis atas fitrah bakatnya. Ayah di masa lalu menurunkan profesinya pada anak anaknya, menjadi guide and coach talent sejak di rumah sampai kepada bisnis keluarga. Ayahlah yang membawa Family Mission menjadi Family Business termasuk family branding untuk memberikan solusi kepada masyarakat dalam satu atau lebih bidang kehidupan dalam profesi atau bisnis.

Wisdom and Knowledge Keeper

Ibu sepanjang sejarah adalah pemelihara kearifan dan pengetahuan di keluarga. Di masa pertanian dahulu peran ibu adalah sebagai penjaga dan perawat benih tumbuhan. Mereka menyimpan pengetahuan dan kearifan keluarga dalam syair dan dongeng, agar dapat diwariskan kepada anak dan keturunan dengan cara yang alamiah dan indah.Di masa modern, peran ibu sesungguhnya tidak berbeda, ia dengan telaten membangun sistem dokumentasi dan portofolio keluarganya, baik anak maupun suaminya. Ibulah sang penyedia sumber belajar, sumber kebijaksanaan dan pengetahuan di rumah, ia ibarat perpustakaan berjalan. Bunda mengimbangi peran Ayah sebagai pembangun sistem berfikir dan bernalar. Jika Ayah sang pembentuk Fikir, maka para Bunda adalah sang penumbuh Dzikir.

3. Fitrah Belajar & Bernalar

Setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Tidak ada anak yg tidak suka belajar kecuali fitrahnya telah terkubur atau tersimpangkan. Golden age pengembangannya di usia 7 -10. Interaksi terbaiknya dengan Alam. Peran yang dicapai adalah peran memakmurkan dan melesatarikan alam sebagai bagian dari rahmatan lil alamin. Buahnya adalah akhlak /adab terhadap alam, ilmu dan ulama.

Fitrah Belajar dan bernalar akan tumbuh menjadi Kesiapan & Kebahagiaan
dalam dimensi Intelectual Life Menuju peran Peradaban Innovation Maker

Logic & Thinking System Builder

Peran ayah adalah juga pembentuk sistem berfikir dan nalar (logika) bagi anak dan pasangannya. Ayahlah yang merancang grand design pengetahuan dan pembelajaran di rumah, merancang family innovation melalui pengelolaan aset pengetahuan dan kearifan di keluarga.

Owner of Conscience & Morality

Ibu adalah sang pemilik moral dan nurani. Ia penumbuh nurani dan moralitas untuk mengimbangi peran Ayah sebagai pembangun professionalisme dan business. Jika Ayah sang pembentuk kinerja (performansi), maka para Bunda adalah sang pembangun moral dan nurani. Banyak masalah dan problematika di dunia yang tidak bisa diselesaikan kecuali dengan kebeningan hati nurani.

4. Fitrah Sosialitas & Individualitas

Setiap manusia dilahirkan sebagai individu, sekaligus juga makhluk sosial atau ketergantungan pada sekitarnya. Manusia memerlukan Interaksi sosialdengan kehidupan sekitarnya, Sosialitas akan tumbuh baik sejak usia 7 tahun, jika individualitas tumbuh utuh pada usia di bawah 7 tahun. Di bawah 7 tahun anak belum punya tanggung jawab moral dan sosial.

Fitrah Individualitas dan Sosialitas akan tumbuh menjadi Kesiapan & Kebahagiaan
dalam dimensi Social Life Menuju Peran Peradaban Social Maker

Ego System & Eco System Builder

Peran ayah berikutnya adalah sang Pembangun Sistem Ego (fitrah individualitas) melalui Self Acceptance & Self Awareness, agar kelak anak mampu hidup dalam sistem sosialnya. Bermain bersama ayah adalah melatih kehidupan bersosial.

Ocean of Forgiveness & Sacrifice (Fitrah Individualitas & Sosialitas)

Jika Peran Ayah adalah Sang Ego yang membangun Ego Keluarga maka Peran Ibu adalah Sang Perawat Ego dengan berbasis pengorbanan, ia adalah Lautan Maaf dan sosok yang penuh pengorbanan. Ego yang sehat akan tumbuh subur dalam wadah maaf seluasnya dan airmata pengorbanan.

Permaafan tak bertepi dan Pengorbanan tiada ganti inilah justru yang melengkapi Kecerdasan Ego dan Kecerdasan Sosial anak dan keluarganya. Anak anaknya akan tumbuh menjadi orang yang siap menjadi Imam (leadership) sekaligus Makmum (followership) untuk mampu berkolaborasi di dalam kehidupan sosial masyarakatny

5. Fitrah Jasmani

Setiap anak lahir dengan membawa fisik yang suka bergerak aktif dan panca indera yang suka berinteraksi dengan bumi dan kehidupan. Setiap anak suka kesehatan dan asupan yang sehat. Setiap indera juga suka menerima input yang membahagiakan dan menenangkan.

Fitrah Jasmani akan tumbuh menjadi Kesiapan & Kebahagiaan
dalam dimensi Health Life Menuju peran peradaban Health Maker

Healthy & Physical Skill Developer

Peran ayah berikutnya adalah sang Pembangun Sistem Ego (fitrah individualitas) melalui Self Acceptance & Self Awareness, agar kelak anak mampu hidup dalam sistem sosialnya. Bermain bersama ayah adalah melatih kehidupanbersosial.

Health Nutrition Maker

JIka Peran Ayah dalam membangun kesehatan keluarga lebih kepada pola gerak dan pola tidur, maka peran ibu sesungguhnya lebih kepada penjaga makanan atau gizi yang sehat serta perawat lingkungan yang bersih.

6. Fitrah Seksualitas & Generatif

Setiap anak dilahirkan dengan jenis kelamin lelaki dan perempuan. Bagi manusia, jenis kelamin ini akan berkembang menjadi peran seksualitasnya. Bagi anak perempuan akan menjadi peran keperempuanan dan kebundaan sejati. Bagi anak lelaki menjadi peran kelelakian dan keayahan sejati

Fitrah Seksualitas akan tumbuh menjadi Kesiapan & Kebahagiaan
dalam dimensi Family Life Menuju peran peradaban Regeneration Maker

Masculinity Supplier & Education Responsible

Peran Ayah berikutnya adalah sebagai pensuplai maskulinitas (75%) bagi anak lelaki agar tangguh dan (25%) bagi anak perempuan agar tidak rapuh. Aktifitasnya adalah membangun cinta dan kedekatan dengan kualitas dan kuantitas relasi yang cukup baik. Dalam dimensi maskulinitasnya ini pula, para Ayah menjadi Imam (pemimpin) sekaligus memiliki peran PenanggungJawab Pendidikan di keluarganya. Ia barangkali lebih sering di luar rumah, namun tanggungjawab pendidikan ada penuh di tangannya, dan ini memudahkan istrinya di tataran eksekusi keseharian.

Femininity Supplier & Daily Education Executor

Ibu mensuplai 75% femininitas bagi anak perempuan agar selembut perempuan sejati dan mensuplai 25% femininitas bagi anak lelaki agar dibalik ketangguhan putranya ada emphaty yang memadai.

Ia, para bunda, sesungguhnya pelaksana harian pendidikan yang menurunkan misi besar sang Suami dan membreakdown grand design pendidikan yang dirancang suaminya, menjadi kurikulum harian di rumah.

7. Fitrah Estetika dan Bahasa

Keindahan dan menyukai keindahan serta keharmonian dstnya, apresiasi dan ekspresi atas keindahan muncul dalam seni, kesusasteraan, arsitektur dstnya. Keindahanmemiliki tingkatan dari inderawi, imaji, nazhori (nalar) dan ruhani kemudian bermuara padat Allah SWT. Setiap anak juga diberi kemampuan berbahasa sebagai alat ekspresi keindahan kemudian diaktualisasi oleh bahasa Ibu oleh kedua orangtuanya

Fitrah Estetika & Bahasa tumbuh menjadi Kesiapan & Kebahagiaan dalam dimensi Harmony Life
Menuju peran peradaban Peace Maker

The narrator of Civilization and Great Communicator

Ayah adalah sang narator peradaban. Dialah yang membangun kesantunan bicara, mampu menarasikan misi perjuangan keluarganya, membangun keindahan, keharmonian, kedamaian, dan kesantunan di rumah.

The Harmony & Aesthetic Keeper

Ibu adalah perawat harmoni dan keindahan, ia penumbuh keharmonian dan kedamaian. Bundalah yang merawat keindahan lewat mata, telinga, mulut dan hati (perasaan), melalui berbagai sumber baik tutur bahasa, budaya sastra lewat apresiasi, tampilan yang indah berupa hiasan, tirai, dekorasi dan desain perabot rumah tangga, makanan yang bergizi namun indah, penyediaan anggaran hobby dan travelling, suasana di meja makan dan ruang keluarga dstnya

8. Fitrah Perkembangan

Perkembangan manusia memiliki sunnatullah, ada tahapan, ada masa emas bagi fitrah tertentu. Tidak berlaku kaidah makin cepat makin baik. Secara umum terdiri dari sebelum agilbaligh, yaitu tahapan usia 0-2 tahun, 2-6 tahun (pra latih), 7-10 tahun (pre agil baligh 1), 11-14 tahun (pre agil baligh 2), dan sesudah AqilBaligh yaitu >15 (post ag baligh). AgilBaligh adalah tujuan dan titik pembeda anak dan dewasa.

Fitrah Perkembangan akan tumbuh menjadi Kesiapan & Kebahagiaan
dalam dimensi Growth Life Menuju peran peradaban Growth Maker

Personal Growth and Development Builder

Ayah berperan mengembangkan mindset dan kedewasaan serta ketangguhan. Peran ayah dalam dimensi peran ini adalah “Sang Raja Tega”, atau pembangun ketangguhan di rumah, memberi ruang seluasnya untuk mengambil peran dan tanggungjawab bagi anak dan istrinya.

The Personal Counseling and Therapist

Jika Peran Ayah adalah Sang Raja Tega maka Peran Ibu adalah Sang Pembasuh luka.
Jika Ayah bicara masa depan yang penuh perjuangan dengan segala perubahan serta luka luka yang dialami keluargasepanjang perjalanan, maka ibu bicara persiapan kedewasaan diri dan pembasuhan luka.

Luka sesungguhnya adalah tempat masuknya cahaya, maka keluarga dalam menjalani kehidupannya, jika ingin berkembang mekar tentu akan mengalami luka sebagai sunnatullahNya. Namun kehadiran Ibulah, dengan ketelatenan dan keyakinannya, yang membuat luka itu menjadi cahaya untuk menambah indah dan bijaksana sebuah keluarga.

 

Pelajari selengkapnya di workshop dan buku Fitrah Based Education dan Fitrah Based Life karya Harry Santosa, juga dapat dipelajari melalui Framework FBE. Semoga bermanfaat.

#Fitrahbasededucation #Fitrahbasedlife

Oleh Ust. Harry Santosa Allahuyarham

Banyak orang ingin berbisnis dengan berbagai alasan, namun seringkali orientasinya tidak “fitri” sehingga alih alih semakin berbahagia dalam makna kehidupan yang tenang dan damai, malah justru kehilangan kebahagiaan dan tidak beradab pada dirinya, keluarganya, lingkungannya bahkan tanpa sadar juga agamanya.

Berapa banyak pasangan yang sejak awal menikah meniti bisnis namun ketika semua tercapai malah merasakan kehidupan yang hampa dan kemudian berpisah. Berapa banyak para orangtua yang resign dari pekerjaan sebagai karyawan untuk berbisnis agar waktu dengan anak istri lebih fleksibel, malah kemudian kehilangan kedekatan karena lebih sibuk dari sebelumnya.

Untuk teman teman yang baru memulai bisnis, atau sudah menrjalaninya, berikut 8 Aspek atau Dimensi Fitrah yang dapat dijadikan panduan sederhana agar bisnis kita semakin menambah kebahagiaan hakiki bukan menjauh dari kebahagiaan hakiki.

1. Dimensi Spirituality (Fitrah Keimanan)

Dimensi ini adalah dimensi paling utama yang mendasari dimensi lainnya. Dimensi ini memastikan bahwa orientasi bisnis kita adalah orientasi langit, awali dengan berangkat dari keinginan menolong agama Allah dalam suatu bidang kehidupan tertentu dengan memberi manfaat sebesar besarnya bagi ummat dan semesta.

Bisnis bukan inti hidup, bisnis sesungguuhnya hanyalah upaya professional agar bisa mendeliver solusi bagi ummat secara ihsan dalam menjalankan misi hidup.

Pastikan bisnis kita adalah dalam rangka on Mission. Misi atau mission of life adalah panggilan langit, yaitu sesuatu yang menggebu gebu ingin dilakukan untuk menyeru kebenaran dan kebaikan atau membuat perubahan yang Allah ridhai atau menolong Ummat dalam suatu bidang, misalnya sosial, pendidikan, sosial, kemanusiaan, kelestarian, perkebunan, ekonomi, kebudayaan, dstnya.

Dengan orientasi seperti ini maka munculah keyakinan dan ketenangan dalam jiwa. Ini karena orientasinya bukan obsesi atau personal success driven, namun purpose/mission driven, tentang kebahagiaan akhirat, dalam rangka menuju Allah, untuk membuat Allah ridha.

Keyakinan dan ketenangan jiwa inilah yang dibutuhkan oleh pebisnis manapun. Keyakinan dan ketenangan jiwa akan mendorong keberanian (syajaah), keadilan (‘adalah), kebijaksanaan (hikmah), ketidakrakusan (‘iffah) dstnya.

Hindari orientasi dunia, karena akan membuat capaian dunia menjadi obsesi. Tentu bisnis ada perhitungan loss n profit agar ihsan namun bukan tujuan.

Obsesi dunia itu awal kehancuran. Bisnis seperti ini akan cepat meletihkan dan melelahkan, tergoda untuk berkompetisi ala kapitalis seperti melejitkan omset, menguasai market dengan segala cara, bahkan tergoda untuk menggunakan riba, menjual harga diri, menggunting dalam lipatan dengan saudara dstnya.

Karena orientasinya langit maka harus juga berangkat dari cara pandang Islam yang benar (Islamic Worldview) sehingga menjadi beradab dan peradaban yang menebar rahmat bagi semesta dan membawa kabar gembira (best solution) serta peringatan.

Dimensi ini menjadi titik utama dan pokok dari semua dimensi lainnya.

2. Dimensi Productivity (Fitrah Bakat)

Productivity dalam perspektif Islam bukanlah kesibukan atau gila kerja dengan orientasi result, namun sesuatu yang sejalan dengan misi dan membetikan impact besar dengan solusi yang diberikan untuk ummat.

Jadi pastikan bahwa bisnis yang kita pilih bukan ikut ikutan trend, tetapi sesuai dengan kompetensi sesuai bakat kita agar melakukannya dengan bergairah dan produktif. Mereka yang berbisnis sesuai bakatnya, maka menjamin produktifitas dan solusi unik bagi masyarakat. Solusi unik bermakna bahwa bisnis kita sebaiknya memiliki own product dengan meminimalkan supplier. Unique Solution dan Owned Product menjamin sustainability business.

Namun ingat sekali lagi bahwa solusi unik yang kita buat adalah untuk Ummat, untuk di jalan Allah, bukan kpentingan ego, obsesi ingin kaya dstnya. Fokus saja pada solusi terbaik, maka keberkahan termasuk rezqi akan dicurahkan.

Agar produktif, maka soluso yang dibuat sebaiknya sesuai bakat. Makin sesuai bakat, makin unik dan produktif juga solutif. Kemudian makin unik dan makin produktif jelas akan makin banyak manfaat dan makin banyak dicari orang, lalu keuntungan finansial yang besar hanyalah efek dari manfaat unik yang besar. Kita belajar dari para pengusaha sukses yang konsisten dengan solusi produknya yang unik sejak awal, seperti Apple, Google dstnya.

Setiap orang Alah mudahkan dengan apa yang menjadi bakatnya, dan bakat adalah solusi bisnis bagi mendukung misi hidup, jadi bukan misi hidup itu sendiri.

3. Dimensi Innovation (Fitrah Belajar dan Bernalar)

Spirituality dan Productivity belum cukup untuk bisnis yang senantiasa berkembang, satu hal yang membuat bisnis selalu berkembang adalah kebutuhan manusia untuk selalu inovasi dengan menciptakan tradisi inovasi tiada henti.

Perusahaan besar dan sustain, selalu memastikan adanya budaya belajar dan budaya inovasi di perusahaannya, kemampuan melakukan knowledge management, wisdom management dan ujungnya innovation managament menjadi suatu keharusan. Anggaran bisnis misalnya dipatok paling rendah 10% untuk selalu inovasi melalui riset, magang, penyediaan technology untuk eCollaboration dan eLearning dll.

Namun hati hati bahwa inovasi bukan sekedar kreatifitas tanpa batas, namun tetap dalam kerangka On Mission dan for the best Solution.

4. Dimensi Community based or Customer based (Fitrah Individualitas dan Sosialitas)

Satu hal yang sering diutarakan banyak pakar bisnis adalah menyiapkan customer based yang memang membutuhkan jasa maupun produk kita. Di dunia socmed, harus rajin membagikan solusi gratis kepada masyarakat agar terbangun segmen customer “fanatis” yang merasakan manfaat besar dari produk maupun jasa kita.

Itu pula banyak yang menganjurkan bahwa Bisnis juga harus “ngobrol” dengan kearifan dan realitas sosial yang ada. Maka penting untuk menggali fitrah lokalitas dan pemetaan fitrah realitas masyarakat.

Ingat bahwa orientasinya bukan untung, tetapi akhirat, dengan menebar banyak solusi manfaat yang inovatif bagi ummat. Jangan khawatir dengan rezqi, apabila jasa atau produk kita unik, inovatif, punya manfaat besar sesuai kebutuhan masyarakat maka rezqi pasti datang.

5. Dimensi Family based (Fitrah Seksualitas atau Fitrah KeayahBundaan)

Nah, apapun bisnis anda, sehebat apapun itu, maka indikator bahwa bisnis anda di jalan yang benar adalah semakin hangat dan dekat dengan keluarga, semakin mesra dan cinta pada pasangan. Jika bisnis anda membawa anda lebih sering marah, stress, jauh dari anak dan pasangan, maka dipastikan bisnis anda salah jalan.

Lebih jauh, seharusnya anak dan pasangan adalah bagian penting yang perlu dilibatkan dalam bisnis. Ingat bahwa bisnis anda bukan bisnis personal, tetapi bisnis keluarga yang harus menjadi legacy yang diwariskan kepada anak dan cucu, sehingga wisdom dan manfaat serta pahalanya berkelanjutan dan semakin besar turun temurun.

Family based ini juga bermakna membangun sistem kekeluargaan dalam bisnis anda, baik kepada orang orang yang berada pada lini terdalam, maupun mereka yang berminat mendapatkan manfaat dari solusi bisnis anda.

6. Dimensi Peacefull & Wonderful (Fitrah Estetika dan Bahasa)

Ini sering dilupakan, bahwa bisnis yang anda jalani harus ramah manusia dan ramah alam, juga ramah kearifan lokal sehingga membuat dunia semakin indah dan alam semakin lestari. Bisnis harus membuat dunia lebih damai dan lebih indah namun bukan pencitraan tetapi kesejatian. Orang orang modern menyebutnya “green n peace business”.

Narasi, story telling, legend, design yang indah yang sejati dstnya harus melekat pada jasa dan produk anda sehingga menciptakan kesan mendalam, namun ingat ini bukan pencitraan tetapi pemaknaan. Semakin bagus dan relevan konsep jasa dan produk bisnis anda dengan fitrah, maka akan semakin berkesan di jiwa.

7. Dimensi Personal & Environment Health (Fitrah Jasmani)

Sebagai pendukung penting adalah bahwa kesehatan pribadi maupun lingkungan harus terawat baik agar bisnis tidak terganggu isue kesehatan asasi manusia dalam pola gerak, pola makan, pola tidur, pola bersih dan tidak merusak lingkungan.

Bisnispun harus tidak merusak environment ataumengusung unsur islamic ethic (fitrah dan adab) dalam ecology. Misalnya halal dan thayyieb bukan sekedar disembelih dengan menyebut nama Allah, tetapi prosesnya harus sesuai dengan fitrah alam, bagaimana hewan bahagia sesuai hak nya sebagai hewan untuk bergerak di alam secara bebas dstnya.

8. Dimensi Sustainability & Growth (Fitrah Perkembangan)

Secara alamiah, ibarat sebuah pohon, maka ketika benih dan orientasinya benar, maka diperlukan upaya terus menerus dan berkelanjutan untuk mengembangkan semua aspek di atas agar tumbuh paripurna menjadi pohon bisnis yang akarnya menghunjam ke tanah, batangnya kokoh menjulang ke langit, cabang dan daunnya rimbun meneduhkan siapapun, serta bunga dan buahnya banyak dan memberi manfaat besar.

Business is not for business, but business is a part of solution of your mission to Allah. Bisnis adalah bagian dari jalan menuju Allah, untuk menyeru kebenaran dan melakukan perubahan yang Allah ridhai.

Kadang panggilan langit datang ketika kita tidak siap, begitulah cara Allah membuat kita siap. Maka selalu siap untuk menerima milestone atau lompatan yang besar dalam menyeru kebenaran atau menolong agama Allah atau melakukan perubahan yang Allah ridhai.

Semoga bermanfaat untuk mereka yang baru meniti bisnis atau sedang menjalani bisnis agar tidak misorientasi dan disorientasi dalam bisnis yang menyebabkan berantakan semuanya dan kehilangan kebahagiaan hakiki

#fitrahbasedbusiness

#fitrahbasedlife

#fitrahbasededucation

#fitrahworldmovement

Dengan mengikuti prinsip fitrah, sebuah keluarga dapat mengelola otoritas dan otonomi dengan sehat. Benturan otoritas dapat menyebabkan gangguan kejiwaan dan hubungan yang buruk di dalam keluarga. Salah satu cara untuk menghindari benturan otoritas adalah dengan membuat keluarga mandiri dan menetap di tempat tinggal yang terpisah dari orangtua. Namun, penting untuk tetap merawat dan membaktikan diri pada orangtua sesuai dengan kewajiban. Seorang suami merupakan anak ibunya, namun juga seorang imam dan qowam yang harus memiliki otonomi dalam mengelola keluarganya sendiri. Walau meniru nama perumahan elite di jakarta, yaitu pondok indah, namun pondok mertua indah bagi yang pernah mengalaminya, umumnya tak seindah namanya walau mungkin secara fasilitas sangat nyaman sekalipun.

Penulis: Harry santosa

Pondok Mertua indah, mengapa demikian? Diantara fitrah keluarga adalah adanya otoritas tunggal, karena sebuah keluarga merupakan satuan terkecil yang memiliki imam dan makmum yang apabila berbenturan dalam otoritas maka pasti melanggar fitrah keluarga, dan tentu saja ada jiwa yang tercederai.

Efeknya tentu tidak main main, bisa kepada gangguan kejiwaan pasangan bahkan ke anak, wujudnya tentu saja akhlak yang jadi nampak buruk, pertengkaran bahkan perceraian.

Oleh karena itu, banyak sudah yang menganjurkan agar sebuah keluarga sebaiknya mandiri berdiri sendiri sehingga tak terjadi benturan otoritas baik dalam mendidik anak maupun nilai nilai atau misi keluarga yang akan dijalankan.

Tinggal berpisah dengan orangtua adalah langkah terbaik untuk melatih kemandirian dan merasakan perjuangan bersama. Walau memulai dengan yang sederhana, mengontrak misalnya, itu jauh lebih baik daripada terjadi benturan otoritas setiap hari yang menyebabkan pertengkaran dan hubungan yang buruk.

Tentu hal ini jangan dibenturkan dengan tidak berbakti pada orangtua. Merawat dan berbakti pada orangtua adalah kewajiban, namun otoritas dan otonomi dalam rumahtangga juga keharusan. Apabila tinggal bersama orangtua dan bisa memahami dan menyepakati batasan otoritas dan otonomi masing masing tentu saja sangat baik, walau kenyataannya sulit.

Di masa lalu, walau konsep Join Family atau Collective Family, dimana banyak keluarga berkumpul dalam rumah besar atau kompleks perumahan bersama, namun ada batasan otoritas dan otonomi berjenjang sehingga tak terjadi overlaping atau benturan otoritas dan pelanggaran otonomi.

Umumnya yang ditahan untuk tinggal bersama orangtua adalah anak pertama dan mantu pertama, karena kasihan dianggap belum mampu mandiri, sehingga perlu terus disubsidi. Ini sebenarnya menghambat kedewasaan dan kemandirian pernikahan atau rumahtangga anaknya.

Perlu kelapangan hati orangtua untuk tidak egois mempertahankan anaknya. Perlu keberanian anaknya untuk mulai berani mandiri dan dewasa dalam membina otonomi keluarganya.

Istilah seorang suami adalah anak ibunya, itu benar sampai kapanpun, namun seorang suami juga seorang imam dan qowam yang memiliki tanggungjawabnya sendiri, termasuk otoritasnya. Ibarat wilayah, ia harus otonom, walau terus menjalin silaturahmi dan terus merawat orangtuanya.

#fitrahbasededucation

#fitrahbasedlife

Oleh Ustadz Harry Santosa Allahuyarham Biografi beliau bisa dilihat disini

Sebuah Karya, menurut seorang Ulama besar, Ibn Hazm, bukanlah sesuatu yang baru, namun hasil merangkai hikmah hikmah atau karya lain yang terserak, kemudian memadukannya dan menyajikannya lebih baik dan mudah dipahami oleh ummat. Begitulah, saya menggali konsep fitrah (islamic concept of human nature) dari berbagai sumber dalam waktu yang cukup panjang, dan subhanalllah para Ulama dahulu sudah lengkap mendefinisikan dan menggali konsep fitrah.

Kemudian disiplin saya dalam manajemen pengetahuan menghendaki perlunya mencluster fitrah, agar kelak lebih mudah menggalinya lebih dalam dan menpraktekkannya sempai kepada indikator, tentu dengan tetap merujuk pada karya para Ulama, maka alhamdulillah, saya mendapatkan setidaknya ada 8 cluster fitrah manusia, dari Kitab Mizanul Amal dan Kimiya asSa’adah, karya Imam Ghazali ditambah beberapa literature lain, yaitu

1. fitrah keimanan (core fitrah as spiriual nature),

2. fitrah belajar & bernalar (intellectual nature),

3. fitrah bakat (professional nature),

4. fitrah seksualitas n generatif (gender n family nature),

5. fitrah individualitas n sosialitas (social nature),

6. fitrah estetika & bahasa (aesthetic nature),

7. fitrah jasmani (health nature),

8. fitrah perkembangan (growth maturity nature).

Ternyata cluster fitrah ini sangat membantu dalam melihat fitrah fitrah apa saja yang merupakan potensi dalam diri kita, dan kita bisa mulai menerapkan dalam pendidikan maupun kehidupan untuk memastikan semua fitrah ini kelak tumbuh paripurna, sesuai tahapannya dan jangan sampai ada yang terlewat. Misalnya buat apa bakat hebat, tetapi spiritual jongkok, atau belajar hebat tetapi homosex atau antu sosial dstnya. Belakangan alhamdulillah, saya dan team bisa memetakan 8 fitrah dalam Kehidupan Rasulullah SAW, sejak lahir sampai Beliau wafat, sehingga bisa dijadikan panduan dalam menata dan memerankan kehidupan. Begitupula saya menemukan idea menarik dari karya Muhammad Faris (Barakah Academy) yang memetakan 3 cluster dalam Daily Routine atau rutinitas harian Nabi Muhammad SAW. Kemudian saya tertarik untuk mengembangkan menjadi 8 cluster selaras fitrah. Untuk memudahkan saya berikan warna warni.

Di dalam gambar saya baru berhasil mengcluster menjadi 4 cluster fitrah, dan sedang mendalaminya dibantu sebuah buku yang sangat bagus yaitu Agenda Harian Rasulullah SAW (alYaum anNabawi). Buku ini adalah terjemahan dari karya seorang Ulama yang bernama Abdul Wahhab bin Nasr AthThahriri.

Coba bayangkan kita dan anak anak kita dapat secara visual melihat bagaimana 8 fitrah bekerja dalam aktifitas Nabi kita tercinta SAW selama 24 jam sehari semalam. Ini memberi inspirasi kita untuk hidup selaras fitrah dengan mengikuti sunnah sunnah dalam 24 jam sehari semalam. Mulailah saya menempel Label Warna Warni untuk setiap aktifitas Rasulullah SAW, terkait masing masing clister fitrah. Sangat menarik dan antusias mengerjakannya. InsyaAllah semakin memperkaya konsep dan praktek Fitrah based Education dan Fitrah based Life.

Senoga sedikit usaha saya dan team ini dicatatkan sebagai keridhaan Allah SWT hingga yaumil akhir dan bermanfaat untuk teman teman semua, Allahumma aamiiin InsyaAllah akan disajikan dan disampaikan dalam Fitrah based Education Masterclass dalam mendidik anak, juga di Fitrah based Life Masterclass dalam perspektif menjalani kehidupan orang dewasa.

Silahkan bergabung ya

#fitrahbasededucation

#fitrahbasedlife

#fitrahworldmovement

Mengintegrasikan Dakwah, Bisnis, Pendidikan, Keluarga, dan Sosial dalam Kehidupan Selaras dengan Fitrah

Dimensi dakwah, bisnis, pendidikan, keluarga, dan sosial merupakan aspek-aspek penting dalam kehidupan yang harus diimbangi dan dipadukan agar manusia dapat hidup selaras dengan fitrahnya. Namun, di zaman sekarang ini, terlihat bahwa banyak orang kesulitan dalam menyeimbangkan dan memadukan dimensi-dimensi tersebut dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan oleh keliru ilmu, yaitu pemahaman dan pandangan yang salah tentang hakekat kehidupan, sehingga orientasi hidup bergeser dari Allah ke ego dan orientasi akhirat menjadi obsesi dunia. Selain itu, ada juga kecenderungan untuk memisahkan masing-masing dimensi seolah-olah mereka merupakan mata pelajaran yang terpisah dan tidak bisa diintegrasikan. Hal ini dapat menyebabkan keruntuhan dalam kehidupan, baik dalam aspek keagamaan, bisnis, pendidikan, keluarga, maupun sosial. Oleh karena itu, penting untuk memahami hakekat dan makna sebenarnya dari setiap dimensi tersebut dan mencoba untuk mengintegrasikannya dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya totalitas kehidupan yang selaras dengan fitrah. -FBEadminweb

 

Tawazunitas dan Totalitas dimensi Dakwah, Bisnis, Pendidikan, Keluarga dan Sosial (bagian 1)

Penulis: Harry Santosa, Allahuyarham

Dalam dimensi kehidupan selaras fitrah, dimensi dimensi kehidupan seperti: Dakwah, Bisnis, Pendidikan, Keluarga dan Sosial merupakan dimensi kehidupan yang penting selaras fitrah. Fitrah merupakan primordial nature agar manusia hidup berbahagia dengan memenuhi dan menyeimbangkan semua dimensi tsb dan memadukannya.

Namun di akhir zaman ini, jangankan menyatukan atau memadukan dimensi ini dalam kehidupan dalam rangka menghamba kepadaNya, bahkan menyeimbangkannya pun nampaknya hampir tak mungkin bahkan mustahil. Mengapa?

Sebenarnya dan sesungguhnya Allah telah meletakkan segala sesuatu di semesta dengan seimbang dan terpadu, termasuk dalam kehidupan manusia, cuma sayangnya manusia dengan egonya dan secuil ilmunya amat sangat suka mengubah ubahnya, merasa dirinya hebat dan jumawa.

Kegagalan menyeimbangkan dan memadukan dimensi kehidupan itu, jelas menyebabkan segala sesuatu dalam kehidupan berjalan sangat rentan dan mudah roboh berantakan. Secara umum penyebab utamanya adalah karena keliru Ilmu bukan kurang ilmu sehingga makna dan hakekat kehidupam menjadi menyempit atau menyimpang.

Karena keliru Ilmu itulah maka pasti orientasi bergeser dari Allah kepada Ego, dari Orientasi Akhirat menjadi Obsesi Dunia (kaya, berkuasa, tenar) sehingga tanpa sadar masing masing dimensi itu dianggap bagian bagian yang terpisah, ibarat mata pelajaran sekolah, yang tidak pernah bisa diintegrasikan dan membuat kacau ketika harus berhadapan dengan soal terpadu apalagi dalam kehidupan nyata.

Lihatlah ada orang yang kehidupan keagamaannya atau kehidupan dakwahnya, tak nyambung mengakar (radical relevant) dengan bisnisnya atau karirnya, juga tak nyambung dengan bagaimana ia menjalani pendidikan dirinya maupun keluarganya, juga tak nyambung dengan bagaimana ia mengelola pernikahannya atau keluarganya, juga tak nyambung dengan bagaimana kehidupan sosialnya atau kontribusi sosialnya.

Semua berjalan masing masing walau bisa saling terkait namun tak mengakar. Nampak hebat dalam dakwah dan bisnis namun keluarga berantakan, nampak hebat dalam bisnis dan keluarga, namun kehidupan dakwah berantakan dsbnya. Kalaupun nampak terpadu atau totalitas sebenarnya hanya terkait ingin tenar, berkuasa atau kaya yang dianggap sumber bahagia. Inilah kemudian yang menyebabkan keruntuhan semuanya.

Memisah misahkan itu karena keliru ilmu atau keliru pandang tentang hakekat kehidupan yaitu memahami dan memaknai masing masing dimensi itu secara sempit, misalnya dakwah diartikan ceramah atau membina pengajian syiar semata.

Dakwah di masa kini umumnya lebih banyak euforia simbol dan trend daripada fokus pada substansi dakwah yaitu misi untuk menebar rahmat, membawa berita gembira (solutions) dan peringatan (warnings) dengan melakukan perubahan yang signifikan untuk mengembalikan kesejatian ummat dan kesejatian bumi Allah serta menegakkan agama Allah.

Begitupula dimensi kehidupan yang bernama Karir atau Bisnis dimaknakan sebagai upaya mencari atau mengejar uang, branding product, manajemen reputasi, visi capital gain keuntungan dunia atau menggenjot penjualan dsbnya. Di era kapitalisme saat ini tanpa sadar fokus hidup hanya mengarah ke bisnis atau karir yang seolah menjadi tujuan, identitas, komunitas dan misi hidup yang tertinggi alias menjadi agama baru.

Begitupula dimensi kehidupan dalam pendidikan, misalnya pendidikan anak, maknanya disempitkan menjadi menitipkan anak di persekolahan seharian walau sekolah Islam sekalipun. Lebih jauh pendidikan ditujukan sekedar agar bersertifikat, berijasah dan bisa kerja atau karir lalu menikah serta hidup sugih. Para pendiri lembaga pendidikanpun orientasinya bisnis, dalam makan capital gain. Intinya tujuan pendidikan sekedar perbaikan tingkat sosial dan ekonomi.

Begitupula kehidupan Keluarga disempitkan hanya sebagai status pernikahan dan tempat berkumpul, bereproduksi, berjibaku mengmpulkan harta bersama, tempat menyalurkan kepenatan dengan bercengkrama makan bersama sepulang kerja dan sekolah, tanpa kegiatan bermakna. Kadang keluarga atau berkeluarga dan membesarkan anak sering dianggap menghambat karir juga bisnis atau bahkan dakwah. Syahwat menitpkan anak amat besar, karena fokus pada dunia (worldly focus) membesar.

Begitupula aktifitas Sosial, umumnya menyempit maknanya dan hanya ditujukan untuk ajang membuka jaringan bisnis atau pemasaran, atau memberi sumbangan atau kontribusi pada yang lemah dengan tujuan agar rejeki dan bisnis lancar. Silaturahmi memang membuka rezqi, namun jika silaturahmi diniatkan untuk marketing atau closing transaction itu mengkhianati makna silaturahmi. Sosial haei ini tidak dimaknakan sebagai membangun jaringan sosial dalam rangka memerankan peran khalifah secara berjamaah.

Kalau sudah begini, nampaknya, bacaan sholat seperti sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah semata menjadi tak berlaku. Atau Islam Kaafah mungkin dimaknakan sebagai full mengerjakan sunnah sunnah semata, bukan kehidupan yang totalitas, dimana dimensi kehdupan seimbang dan terintegrasi dengan indah di jalan Allah untuk menuju Allah.

Rupanya sekularisasi telah melanda banyak isi kepala kita, bukan hanya pemisahan Islam dari politik, juga pemisahan Islam dari Pendidikan, dari Keluarga, dari Bisnis, dari Sosial dstnya. Pemisahan ini diantaranya diawali dengan menyesatkan makna, sehingga terjadi penyempitan makna makna dalam dimensi dimensi hidup tsb.

Ketidakseimbangan dan ketidakpaduan inilah penyebab kehidupan yang berantakan dan tak mengalami kebahagiaan hakiki.

Untuk jelasnya, saya akan ilustrasikan bagaimana sesungguhnya makna yang benar, sehingga kita tidak memisahkan satu sama lain, mudah menyeimbangkan dan memadukannya.

(Bersambung)

#fitrahworldmovement

#fitrahbasededucation

#fitrahbasedlife

Keywords:

Seorang istri meminta suaminya agar lebih lembut dalam bicara, mau lebih peka mendengarkan perasaan istrinya, lebih santuy pada istrinya.

>> Jawaban suaminya, istrinya diminta memahami gayanya, “kamu kan tahu, saya ini tidak bisa lembut, sejak dulu saya kan tipikal Umar bin Khottob RA alias tempramental?”

Seorang istri meminta suaminya, agar sebagai qowam dan imam, agar lebih tangguh dalam memimpin keluarga, mendidik anak juga bisnis.

>> Jawaban suaminya, istrinya diminta memahami personality nya, “kamu kan tahu, saya ini plegmatis bukan koleris, jadi pahami kepribadian saya”

Seorang istri meminta suaminya agar memiliki misi keluarga yang ajeg, tegas dalam memperjuangkannya, menuntun anak istrinya menjalankan misi keluarganya.

>> Jawaban suaminya, istrinya diminta memahami bakatnya, “kamu kan tahu, saya ini tidak memiliki potensi kekuatan sebagai commander, juga bukan orang yang berbakat stratgis, saya tipe eksekutor, jadi sampai kapanpun saya ga akan mampu membuat misi keluarga”

_____

Tiga cerita sederhana di atas menggambarkan betapa kita seringkali membenturkan fitrah kita dengan label label, topeng topeng karakter, personality, bakat dstnya yang merupakan buatan manusia, yang sifatnya kira kira dan belum pasti sehingga justru meninggalkan fitrah itu sendiri, termasuk fitrah keayahbundaan.

Label label di atas sebenarnya dibuat manusia untuk mengetahui bagaimana tipe atau gaya manusia dalam mencapai sesuatu. Lalu mereka yang dilabel justru terjebak pada egocentric, menganggapnya label itu adalah dirinya yang sesungguhnya dan dijadikan alat untuk bersembunyi dari peran fitrahnya.

Padahal bisa jadi apa yang nampak itu dan dilabel itu sesungguhnya bukan sifat uniknya, tetapi karena salah asuh atau traumatis atau ada fitrah yang tak tumbuh baik. Contoh ekstrem nya misalnya pada fitrah seksualitas, apakah seorang lelaki yang aktifitasnya, gayanya, tindak tanduknya, fashion sangat feminim, lalu bisa dilabel sebagai perempuan? Jadi observasi aktifitas saja bisa bias apabila tak menelusuri sifat dasarnya.

Saya tidak menolak bahwa manusia punya sifat unik, namun sifat unik atau potensi unik, jangan sampai membuat seseorang malah mengabaikan fitrah lainnya. Seorang yang dinilai bahwa kepribadiannya atau bakatnya tidak relijius, lalu dengan mudah bisa mengatakan saya memang tipe orang yang bukan agamis atau kurang spiritual. Lho?

Fitrah itu justru sifat dasar spiritual, maka aneh kalau urusan spiritual dianggap keunikan atau dibenturkan dengan sfiat unik. Ini contoh saja.

Jadi pertama, seseorang harus berusaha kembali kepada fitrah sejatinya, karena bisa jadi pola asuh atau pendidikan atau lingkungan menyimpangkan fitrahnya. Seorang ayah yang kurang keayahan, harus kembali pada fitrah keayahannya. Seorang ibu yang kurang keibuan, harus kembali kepada fitrah keibuannya.

Kedua, letakkan fitrah pada tempatnya, misalnya bakat, ini fitrah juga, namun gunakan dalam kehidupan karir atau bisnis, namun jangan dibenturkan pada kehidupan keluarga. Seorang ibu sehebat apapun bakat pemimpinnya, dalam kehidupan keluarga ia tetap makmum yang setia, lembut penuh cinta, gunakan bakat itu pada kehidupan profesi saja.

Seorang ayah betapapun bakatnya sangat melow, baperan, sensitif, cengeng dll gunakan saja pada profesinya sebagai penulis novel atau pencipta lagu sedih dll, namun di rumah atau kehidupan keluarga tetap ia harus kepada fitrah seorang imam yang tangguh dan tegas

Silahkan direnungkan…

#fitrahbasedlife

Ingin memahami lebih jauh FBL untuk menemukan Misi Hidup baik Misi Personal maupun Misi Keluarga? Silahkan pesan bukunya link pemesanan atau ikuti FBL MasterClass yang akan kembali diadakan pada tahun 2023

Orangtua memiliki fitrah keayahbunda yang harus dipenuhi dalam mendidik anak-anak mereka. Namun, tidak semua orangtua mampu melakukannya dengan baik. Lembaga pendidikan dapat membantu orangtua memenuhi fitrah keayahbundaan mereka, tanpa menggantikan peran orangtua tersebut.

Atrofi Fitrah

Oleh Harry Santosa Allahuyarham

Mendirikan lembaga pendidikan untuk membantu para orangtua yang enggan atau merasa tak mampu mendidik anaknya, dari sisi lembaga itu kemungkinan adalah amal shalih.

Namun, membiarkan orangtua keenakan menitipkan anaknya, melalaikan fitrah keayahbundaannya terus menerus tentu akan buruk akibatnya bagi orangtua tsb. Melalaikan fitrah keayahbundaan dalam jangka panjang akan merentankan pernikahan, menghambarkan keharmonisan, berpeluang selingkuh dsbnya.

Bagi lembaga pendidikan juga tak perlu jumawa bisa mendidik semua hal, kelak akan bermasalah dan mengalami kerepotan dalam waktu panjang, karena tidak mungkin menerima amanah fitrah semua anak yang telah dititipkan Allah pada kedua orangtua.

Maka jangan pernah mengambil alih fitrah peran orangtua dalam pendidikan anak, berbagi peranlah dan berusahalah mengembalikan peran fitrah keayahbundaan, jika tidak, maka akibatnya akan buruk bagi semuanya khususnya generasi masa depan.

Ini mirip seorang istri yang membantu menutupi nafkah suaminya dalam waktu panjang. Dalam waktu pendek atau sementara waktu tentu boleh dan amal sholeh, namun jika berkelanjutan maka dari sisi suami akan buruk akibatnya, ia akan kehilangan fitrah qowamah dan imamnya, ia bisa berlaku kasar dan tidak menyenangkan bahkan selingkih dsbnya untuk menunjukkan egonya.

Dari sisi istri, kelak akan banyak disakiti dan dikecewakan bahkan tanpa sadar mengurangi respek pada suami sejak hari pertama sang istri mensupport kewajiban nafkahnya. Tiba tiba mereka dikagetkan oleh pengkhianatan suami yang selama ini sudah dibantu habis habisan.

Kesimpulannya, jangan pernah membiarkan karunia fitrah yang Allah berikan kepada anda, jangan diabaikan atau dilalaikan apalagi diserahkan kepada pihak manapun, karena setiap karunia yang Allah berikan itu untuk kebahagiaan anda dan kebermaknaan anda sendiri.

Jika anda tak menggunakannya atau menyia nyiakannya maka yang terjadi bukan anda akan nyaman dan terlepas tanggungjawab, justru anda akan kehilangan kebahagiaan hakiki dan kebermaknaan dalam hidup anda.

Begitupula, untuk lembaga jangan pernah mengambil alih peran fitrah keayahbundaan yang Allah telah berikan kepada Orangtua untuk mendidik fitrah anak anaknya, maka kelak lembaga anda akan mengalami kerepotan dan kesulitan, karena itu bukan amanah dan fitrah lembaga anda. Satu satunya yang bisa anda bantu adalah pengajaran namun bukan pendidikan.

#fitrahbasededucation #fitrahbasedlife

Oleh Harry Santosa Allahuyarham.

Sebelum negara mengambil alih pendidikan untuk kepentingan industri, sesungguhnya sepanjang sejarah sentra pendidikan adalah Keluarga dan Keluaga Besar (Join Family) atau disebut Komunitas (community). Di Indonesia kita mengenal konsep Surau, Meunasah, Dayah, Rangkang, Pesantren dll yang sesungguhnya adalah sentra pendidikan berbasis keluarga atau berbasis komunitas.

Ada kaidah dari Turki, bunyinya, “It takes a village to raise a child”, bahwa kita membutuhkan orang sekampung untuk membesarkan anak. Kaidah ini sesungguhnya kaidah yang berlaku sepanjang zaman dan selaras fitrah, bahwa hanya keluarga dan jamaahlah yang paling memahami sistem nilai yang diyakini, budaya, realita sosial, local wisdom dan local advantage alam dimana mereka tinggal serta tujuan dan kebutuhan pendidikannya.

Hal di atas, dimana keluarga dan komunitas mampu berdaulat dalam mendidik akan terjadi apabila peran fitrah keluarga dan peran fitrah jamaah menguat dan keduanya kembali menjadi unit peradaban, bukan kuli atau budak peradaban.

Sejak masa kolonial, pendidikan berbasis keluarga atau berbasis komunitas itu dianggap sekolah liar dan dihapuskan, padahal justru model pendidikan berbasis keluarga dan komunitaslah yang melahirkan para pahlawan dan orang orang yang jiwanya bangkit untuk membela dan membangun negerinya. Perbudakan modern jelas tak menghendaki kedaulatan pendidikan bagi keluarga dan komunitas.

Di era perbudakan modern, pendidikan menyempit menjadi hanya pencetak kepintaran dan keterampilan berkompetisi di dunia industri untuk kepentingan sosial ekonomi, sehingga memcerabut generasi kita dan anak anak kita dari akar fitrah keluarganya dan komunitasnya, akar fitrah keimanannya, akar fitrah kehidupan sejarahnya, akar fitrah alamnya serta realitas sosialnya.

Sistem pendidikan modern dikenal hanya melahirkan human thinking dan human doing (manusia pintar dan terampil), namun gagal melahirkan human being atau manusia paripurna atau insan kamil. Sistem pendidikan modern juga dikenal hanya melahirkan para Urban yang tak mampu membangun daerahnya karena pengetahuan dan keterampilan nya hanya untuk mengais upah di kota sebagai sekrup dan mesin industri.

Inilah kemudian yang menyebabkan banjirnya urbanisasi ke kota, terbengkalainya desa, mahalnya tanah di kota, rusaknya daya dukung lingkungan di kota, banjir dan macet, pencemaran dan polusi air dan tanah, orang orang dengan budaya gila kerja yang mengalamk ketidakseimbangan hidup,dan ketidakbahagiaan hakiki, toxic parent, toxic relationship, gangguan kecemasan, sampai maraknya perceraian KDRT dan banyaknya anak gagal didik.

Ini bagai siklus kezhaliman, karena kelak anak anak yang pintar dan terampil namun gagal didik ini, kelak akan melahirkan generasi urban lagi yang gagal didik lagi dan menjadi budak peradaban lagi. Begitu seterusnya. Karenanya, demi masa depan generasi muda, maka siklus kezhaliman ini harus diputus dengan kembali kepada fitrah Keluarga dan fitrah Komunitas dalam mendidik generasi.

Kembali ke Fitrah Keluarga dan Fitrah Komunitas dalam Mendidik

CBE adalah sebuah teritory, suatu basecamp dimana keluarga keluarga dapat bersinergi dan berkolaborasi dalam mendidik generasi masa depan. Tentu ini merupakan keluarga keluarga yang memiliki misi yang sama dan mampu membuat solusi dan berinovasi merancang kurikulum berbasis fitrah bersama untuk anak anak mereka sendiri.

Manfaat CBE

Selain untuk mengembalikan kedaulatan Fitrah Keluarga dan Fitrah Komunitas, juga

1. Menanggung bersama proses dan biaya mendidik generasi

2. Membuat anak merasa dibesarkan oleh komunitas dan sangat baik bagi kedewasaannya

3. Memaksimalkan hasil dengan meracik sendiri Kurikulum yang paling sesuai kebutuhan komunitas

4. Mengantarkan generasi masa depan untuk terbiasa bersinergi dan berkolaborasi

5. Membina kemampuan mengelola Local Wisdom dan Local Advantage atau Local Resources

6. Membangun kemampuan membangun desa atau daerahnya sendiri

7. Menghidupkan kembali Kearifan lokal dan konservasi alam setempat

8. Saling membackup dalam mendidik, khususnya bagi orangtua yang dibutuhkan publik atau Single Parent

9. Menguatkan Keluarga dan Komunitas sebagai unit peradaban yang berdaulat

10. Memberikan imunitas bagi berbagai krisis dunia

11. dstnya

Mengapa harus berbasis fitrah?

1. Keluarga dan komunitas adalah Unit Peradaban yang berdaulat, sehingga harus diempower sesuai fitrahnya, baik fitrah sistem nilai atau keyakinan yang dimiliki, fitrah manusia manusia yang menghuni komunitas itu, fitrah alam dimana mereka ditakdirkan tinggal, fitrah kehidupam di zaman dan sejarah ketika mereka ditakdirkan hadir.

2. Keluarga dan komunitas adalah miniatur peradaban, karenanya perlu dilihat sebagai sebuah landscape peradaban yang memiliki kelengkapan fitrahnya sebagaimana point 1

3. Pendidikan yang akan melahirkan Insan kamil, harus berangkat dari konsep human nature yang terbenar dan terbaik, yaitu konsep fitrah menurut alQuran. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu Kaum sampai mereka mengubah jiwanya. Fitrah ada di dalam jiwa manusia, memberikan cahaya spiritual bagi semua dimensi hidup selaras fitrah

Bagaimana Strategi Memulai dan Membangun CBE,

1. Start with Why, Finda Your Why. Bangun Keyakinan, rumuskan Misi Bersama untuk mengenbalikan Kedaulatan dalam pendidikan, dan kedepannya pasti berdampak pada kedaulatan pangan, energi juga ekonomi.

2. Find People who Believe what you believe. Temukan orang orang yang Misi nya sama yaitu berdaulat dan mandiri dalam pendidikan. Selalu bersinergi dan berkolaborasi, kegagalan terjadi selalu karena ada ego untuk berkuasa atau menguasai. Namun ingat bahwa sebuah komunitas memerlukan tokoh yang disegani dan dihormati untuk membimbing.

3. Designing Curriculum. Rancang kurikulum berbasis fitrah untuk setiap tahap usia anak, yang mampu menginteraksikan fitrah dengan alam, kehidupan dan Kitabullah. Ingat bahwa gunakan selalu local resources, jangan mengada ada, atau menunggu semua ada, mulai dari apa yang ada. Bekalkan kemampuan para orangtua untuk mengobservasi fitrah anak dan merancang personalized curriculum untuk anak anak mereka sendiri.

4. Provide Basecamp. Siapkan Basecamp, sebuah teritory. Ini bisa sewa atau kerjasama dengan pemilik lahan atau sekolah yang tak memilki CBE, jadi tak harus membeli. CBE ini sebaiknya lahan yang bisa memunculkan dan mengeksplorasi local advantage dan local wisdom.

5. Create Database. Inventaris atau database kan kompetensi anggota komunitas dan pakar lokal. Semua kelak harus berkontribusi dan bersinergi dalam mendidik. Partisipasi publik, volunterisme dan budaya fitrah (fitrah culture atau fitrah lifestyle) adalah syarat berhasilnya transformasi.

6. Setup Governance. Susun Etika atau Tatakelola Bersama, agar jelas pembagian hak dan wewenang. Ketika komunitas membesar bukan tidak mungkin ada benturan dan kepentingan ego yang merusak. Ini bisa semacam AD/ART dll

7. Build Knowledge Platform. Susun Platform Knowledge dalam mendidik bersama, misalnya menggunakan FBE dan FBLsebagai konsep dan framework. Tidak ada satu komunitaspun yang akan bisa bangkit tanpa Platform Knowledge atau pengetahuan yang disepakati sebagai panduan.

Semoga bermanfaat.

Salam Peradaban

#fitrahbasededucation

#communitybasededucation

Artikel ini membahas tentang peran fitrah dalam kebahagiaan pernikahan di Indonesia. Menurut data, tingkat perceraian di Indonesia cukup tinggi, yaitu lebih dari 300.000 pertahun. Penyebabnya banyak, salah satunya adalah karena fitrah yang tak tuntas ketika masa anak dan masa muda sebelum pernikahan. Artikel ini juga menyoroti bahwa kebahagiaan masa depan bukan hanya tentang kecerdasan otak atau keterampilan bekerja, tapi juga tentang bagaimana potensi di dalam jiwa, yaitu fitrah, tumbuh dengan hebat dan paripurnaTingkat perceraian di Indonesia sungguh mengerikan, yaitu 300.000 lebih pertahun, itu artinya kurang lebih 960an per hari, atau 36 lebih kasus per jam. Penyebabnya beragam, namun umumnya karena banyak fitrah yang tak tuntas ketika masa anak dan masa muda sebelum pernikahan. Nah ledakannya terjadi di dalam pernikahan. -adminweb

Fitrah tak Tuntas, Pernikahan terancam Kandas

Barangkali banyak orangtua yang masih memuja akademis dalam pendidikan anak anaknya, masih memuja mengasah otak dan melejitkan kecerdasan anak anaknya, namun sayangnya, kebahagiaan masa depan anak anak kita bukan tentang banyaknya pengetahuan yang dihafal atau kecerdasan otak yang diasah, atau keterampilan bekerja yang dilatih keras, namun tentang bagaimana potensi potensi di dalam jiwa berupa fitrah yang Allah berikan sejak lahir itu tumbuh dengan hebat dan paripurna sehingga bahagia. Bukan tentang apa yang nampak terlihat, tetapi tentang apa yang memberi dampak hebat.

Ketahuilah bahwa fitrah yang tak tumbuh dengan paripurna dan tuntas sejak masa anak, ledakan hebatnya juatru muncul ketika masa pernikahan karena di masa inilah kita hidup bersama pasangan dan memerlukan sinergi dalam peran bersama baik dalam mendidik generasi maupun dalam mewujudkanperan spesifik keluarga yang memberi manfaat dan menebar rahmat. Bayangkan kira kira apa yang terjadi ketika banyak fitrah yang tak tumbuh tuntas ketika seseorang menikah? Masa pernikahan yang seharusnya masa bersinerginya potensi fitrah, jadi sibuk pada ego atau masa saling menyalahkan.

Lihatlah, betapa banyak keluarga yang mengalami kepribadian ganda, mereka beragama, namun tak beraqidah, mereka tahu ilmu agama namun galau karena gairah keimanan tak tumbuh menjadi wujud keluarga yang berani membela kebenaran, malah sebaliknya, rajin haji dan umroh, rajin zakat dan sedekah namun juga rajin korupsi dan manipulasi. Uang uang haram itu tidak dianggap lagi sebagai dosa, namun sebagai bagian dari upaya dan usaha dalam bingkai indah untuk membangun ummat, lalu mereka makan dan beri makan anak anaknya.

Keimanan tak berwujud pada misi keluarga yang kokoh untuk berjuang di jalan Allah dalam suatu misi perjuangan spesifik, mengalir begitu saja atau hanya obsesi kekayaan dan agama menjadi aspek moralitas semata. Akankah keluarga seperti ini bahagia? Hidup senang barangkali iya, namun bahagia itu tidak bisa pura pura, ia bicara nurani yang tak dapat ditipu oleh pemiliknya.

Lihatlah pasangan yang galau karena potensi fitrah bakatnya tak tumbuh tuntas paripurna. Berapa banyak ayah karir atau ibu karir yang salah karir, atau bekerja asal kerja karena salah kuliah atau sebaliknya menjadikan karir atau bisnis sebagai agamanya, tujuan hidupna, identitasnya dstnya mereka tak tahu misi hidup sejatinya dalam sosialnya, mereka hanya bekerja karena mengejar ambisi dan harta walau membingkai dengan ucapan agar keluarga bahagia.

Namun kenyataannya mereka nampak lebih layak disebut tersesat dan tidak bahagia ketika mencari kebahagiaan, walau bergelimang harta maupun sebaliknya bergelimang hutang. Ayah karir dan ibu karir, ayah bisnis atau ibu bisnis yang tak bahagia dan tak selesai dengan dirinya, dikendalikan personal success driven bukan pupose/ mission driven, maka akan sulit menjalani biduk pernikahannya. Mereka akan menjalani rutinitas yang menjemukan, liburan dan vakansi hanyalah sarana mengentaskan stress berkarir atau kesenangan semu bukan merajut peran, menjalin cinta dan kebersamaan untuk masa depan yang penuh manfaat dan rahmat.

Lihatlah pasangan yang menjadikan gelar gelar akademis sebagai kebanggaan dan prestise tanpa inovasi karya solutif untuk ummat, mereka tiba di masyarakat bagai orang yang mati. Fitrah Belajar dan Bernalarnya atau intelektualitasnya tak tumbuh paripurna menjadi peran inovasi untuk memakmurkan bumi dan menghebatkan alam tempat dimana ia dilahirkan.

Kepandaian dan titelnya semakin membuatnya takut melakukan perubahan, hanya untuk dijajakan dan untuk kesenangan dirinya, menaikkan pamor dan mencari uang atau orientasi hasil atau kredit pujian, bukan untuk menjadikan keluarganya semakin inovatif menebar manfaat dan rahmat bagi semesta. Skripsi dan tesis bahkan disertasinya hanya pencapaian ambisi namun tanpa makna, kosong dari karya inovatif bagi masyarakat. Ilmu dan kepintarannya tidak dijadikan alat untuk semakin pandai mendidik anak dan jalan menemukan peran terbaik keluarga bahkan membuat semakin tak kenal dirinya dan membuat hubungan dengan pasangan dan anaknya makin menjauh dan kering.

Lihatlah pasangan yang gagap menjadi ayah atau gagap menjadi ibu. Ini bukan masalah kurang ilmu, namun sesungguhnya fitrah seksualitas mereka tak tumbuh tuntas paripurna, sementara mereka ragu menyambut fitrah kelelakiannya untuk menjadi suami dan ayah sejati atau ragu menyambut fitrah keperempuanannya menjadi istri atau bu sejati. Mereka berkilah tentang buruknya pengasuhan mereka di masa anak, mereka bolak balik mengeluhkan innerchild dan hutang hutang pengasuhan dsbnya, namun mereka tetap tak berani menyambut panggilan untuk menjadi ayah sejati dan ibu sejati, atau panggilan untuk menjadi suami sejati dan istri sejati.

Alih alih menyambut panggilan fitrah ini, banyak para orangtua lebih pandai menitipkan dan mensubkontrakkan peran mendidiknya. Keluarga yang kosong dari proses mendidik anak sendiri, ayah yang galau dengan peran keayahannya dan ibu yang galau dengan peran keibuannya, suami yang galau dengan perannya sebagai suami dan istri yang galau dengan perannya sebagai istri adalah keluarga yang berpeluang besar berpisah.

Lihatlah pasangan yang tak bisa berkolaborasi apalagi bersinergi, berebut perhatian dan ingin menang sendiri, berambisi merubah karakter bawaan pasangannya, sulit akur dalam menetapkan kebijakan keluarga dstnya, mereka sesungguhnya pasangan yang tak selesai dengan fitrah individualitasnya atau egonya ketika masa anak anak. Ego yang tak selesai kemudian menuntut haknya ketika dewasa, padahal di saat dewasa itulah saatnya menunaikan kewajiban sosialitasnya.

Maka di dalam pernikahan, ego yang tak selesai ini berubah menjadi keegoisan yang berujung kepada perceraian. Masing masing mereka sebenarnya tak siap memimpin dan tak siap terpimpin. Kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang paling akhir mendapatkan haknya, setelah menuntaskan kewajiban dan tanggungjawabnya.

Maka AyahBunda yang baik,

Mari fokus saja untuk saling mendukung untuk menumbuhkan atau mengembalikan cahaya fitrah pasangan masing masing, agar cahaya itu mengusir kegelapan, agar pernikahan itu menjadi cahaya yang menerangi sekitarnya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation

#pendidikanberbasisfitrah

Mengenal Fitrah Based Education – Ustadz Harry Santosa | Fitrah Based Education [Part 1]

Mengenal Fitrah Based Education – Ustadz Harry Santosa | Fitrah Based Education [Part 2]

Ikuti Kajian Pendidikan Berbasis Fitrah Awal Tahun 2023 bersama Ustad Widodo Supraha untuk mempelajari konsep Human Nature dalam Islam secara lebih dalam. Seminar ini akan membahas tentang hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan kelebihan dan keistimewaan di atas semua makhluk lain di alam semesta. Selain itu, Anda juga akan memahami tentang fitrah, yaitu kecenderungan dan kemampuan manusia untuk mentaati perintah Allah dan menjalankan kewajiban-kewajibannya. Gabung sekarang dan dapatkan banyak manfaat dari kajian ini yang akan membantu Anda dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.

Human Nature

Ketika bumi dan langit diciptakan jutaan tahun yang lalu,

Ikuti Kajian Pendidikan Berbasis Fitrah Awal Tahun 2022 bersama Ustad Widodo Supraha

Ketika jagad raya dihamparkan jutaan milyar kilometer,

Ketika kemudian waktu kehidupan dimulai, itu semua semata mata kehendak Allah untuk menunjukkan keberadaan-Nya dan Maha Rahman-Nya.

Dan kehendak Allah jualah menciptakan makhluk paling sempurna yang tidak seperti flora dan fauna, tidak pula seperti Jin dan Malaikat, tetapi makhluk istimewa yang akan dijadikan representasiNya atau KhalifahNya di muka bumi.

Maka semua cerita tentang maksud dan tugas penciptaan semesta itu adalah tentang manusia, termasuk diturunkannya Kitabullah dan diutusnya para Nabi alahimussalaam. Dan semua cerita tentang manusia adalah cerita tentang asal mula kejadian, sifat, karakter, kondisi, konstitusi tentang manusia itu sendiri termasuk kebahagiaan dan maknanya dihadirkan di dunia.

Inilah fitrah, konsep terbenar dan

terbaik tentang konsep human nature.

Ingin belajar lebih dalam mengenai konsep Human Nature dalam padangan islam?

Melanjutkan estafet kajian konsep ustadz Harry Santosa

Mari bergabung dalam Kajian Pendidikan Berbasis Fitrah Awal Tahun 2022

Jum’at, 7 Januari 2022

Pk.19.45 -21.45 WIB

Siap belajar lagi dan membuat langkah baru

Info dan pendaftaran

http://bit.ly/HumanNature-FBE

#backtofitrah

#kajianfitrahbasededucation2022

#ustadzharrysantosa

#fitrahworldmovement